Lelaki Seks Lelaki (LSL) termasuk dalam
kelompok berisiko tinggi dalam penularan HIV/AIDS. Komisioner Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Solo, Tommy Pranoto, menegaskan hal ini menyusul
sorotan terhadap grup Facebook “Gay Surakarta dan Sekitarnya” yang belakangan
muncul di media sosial
“Komunitas populasi kunci yang rentan
tertular dan menularkan ada lima: LSL (Lelaki Seks Lelaki), PSP (Pekerja Seks
Perempuan), Transgender, pemakai narkoba suntik, dan High Risk Man atau
pelanggan,” ujar Tommy saat ditemui di kantornya, Senin (22/8/2025).
Menurutnya, KPA Solo telah melakukan
pemantauan intens terhadap komunitas-komunitas tersebut, termasuk menjalin
kerja sama dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mendampingi
dan melakukan penanggulangan. “Selama ini kita juga ikut memantau. LSM yang
mendampingi juga ada. Itu memang agak sulit diketahui,” tuturnya.
Tommy menjelaskan, berbeda dengan
transgender yang lebih mudah dikenali, individu dengan orientasi LSL sulit
diidentifikasi secara fisik karena mereka tampak seperti laki-laki pada umumnya
dan masih berbaur dengan masyarakat. “Secara fisik tidak bisa diketahui. Mereka
masih berbaur dengan masyarakat dan komunitas sulit dimasuki orang yang tidak
komunitas dia,” terangnya.
Meski belum menjangkau secara spesifik
komunitas gay yang aktif di media sosial, KPA Solo tetap berupaya melakukan
pendekatan melalui LSM yang memiliki akses ke kelompok rentan tersebut. “Selama
ini kami menjangkau atau mendampingi bekerjasama dengan LSM. LSM yang
mendampingi menggiring ke tes setelah diketahui positif, ada LSM yang
mendampingi untuk ikut terapi,” jelasnya.
Data KPA Solo menunjukkan bahwa selama
periode Januari hingga Juni 2026, dari 2.362 target sasaran LSL, baru sekitar
1.065 orang atau 45 persen yang menjalani tes HIV. Secara keseluruhan, per Juni
2025, tercatat 1.480 kasus HIV di Kota Solo. Dari jumlah tersebut, 689 orang
telah berkembang menjadi AIDS dan 186 di antaranya meninggal dunia.
Untuk memperluas jangkauan
penanggulangan, KPA Solo mulai menerapkan pendekatan digital. Sistem ini
memungkinkan pendamping memberikan informasi dan mengarahkan tes secara daring.
“Kita sudah mulai menerapkan dengan program digitalisasi. Semua pendamping
teman-teman pakai program digitalisasi. Pemberian informasi lewat digital. Tes
bisa lewat digital juga,” pungkas Tommy.

0 comentários:
Posting Komentar