Isu Ketenagakerjaan dan Kemiskinan Membayangi Pembangunan Kota Surakarta

 


Di balik apresiasi positif kinerja Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, sejumlah persoalan mendasar yang menyentuh langsung keberlangsungan hidup warga kota belum sepenuhnya terjawab. Gebrakan awal Pemkot Surakarta mendapat sambutan positif dari mayoritas warganya. Survei Litbang Kompas pada 1-5 Juli 2025 mencatat 75,4 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja pemkot secara umum di bawah komando Wali Kota Respati Ardi dan Wakil Wali Kota Astrid Widayani. Terutama setelah 100 hari berlalu sejak resmi dilantik pada 20 Februari 2025. Beragam agenda yang ditawarkan mampu mengakumulasi tingkat kepuasan yang relatif tinggi.

Tampaknya, program di bidang kesehatan memang selalu berhasil mencuri hati masyarakat. Sembilan dari 10 responden mengapresiasi program peningkatan pelayanan kesehatan melalui Posyandu Plus dan Puskesmas Plus yang dicanangkan. Pemkot Surakarta memang menempatkan program kesehatan dasar tersebut sebagai salah satu prioritas dalam 2,5 tahun ke depan pada periode pertama kepemimpinan wali kota sekarang. Hal ini sejalan dengan kondisi fasilitas puskesmas di Kota Surakarta yang dalam pandangan 96,4 persen responden sudah baik dan sangat baik. Artinya, menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan ini mendapat atensi positif yang tergolong sangat tinggi.

Selain kesehatan, upaya berikutnya yang juga mendapat apresiasi yang tinggi adalah peningkatan kualitas pendidikan, layanan pengaduan masyarakat, hingga kualitas ruang publik. Penataan trotoar, ruang hijau, hingga ruang bermain anak yang lebih manusiawi menjadi salah satu wajah baru Kota Surakarta yang banyak dipuji warga. Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan Pemkot Surakarta dalam memperbaiki aspek-aspek keseharian warga yang sebelumnya kerap luput dari perhatian.

Meskipun demikian, Pemkot Surakarta juga perlu untuk fokus pada realisasi program-program yang menyasar langsung keresahan mendasar warga, terutama terkait tekanan ekonomi yang kian terasa. Terbatasnya lapangan kerja dan problem perekonomian secara umum menjadi sorotan utama sekitar 30 persen responden warga Surakarta. Pasalnya, kebutuhan hidup yang terus meningkat belum disertai dengan kemudahan mendapatkan sumber penghidupan.

Lebih dari sepertiga responden menilai bahwa ketersediaan lapangan kerja di Kota Surakarta saat ini dalam kondisi buruk. Bahkan, hal ini sejatinya bukanlah persoalan baru di Kota Surakarta. Merujuk catatan Badan Pusat Statistik Kota Surakarta, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Surakarta pada 2024 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari 4,58 persen menjadi 4,61 persen.

Tahun ini, situasinya pun tak lebih mudah. Gejolak ekonomi yang mengguncang dunia, termasuk Indonesia, pun tak luput dari Surakarta. Apalagi, tumbangnya raksasa tekstil kebanggaan Tanah Air, Sritex, yang terletak di Sukoharjo juga turut berimbas ke Surakarta. Sedikitnya 600 karyawan dari Surakarta terpaksa berhenti bekerja sehingga berpotensi menambah daftar panjang pengangguran di ”Kota Batik” itu.

Tantangan tersebut menjadi kian terasa berat tatkala proporsi pengangguran lebih didominasi usia angkatan kerja berlatar pendidikan menengah dan tinggi. Delapan dari 10 pengangguran di Surakarta adalah lulusan SMA dan perguruan tinggi. Dengan tingkatan pendidikan tersebut, umumnya, ranah pekerjaan formal menjadi prioritas sasaran mereka. Namun, rilis BPS menunjukkan bahwa tren pekerja formal di Surakarta justru menurun, setidaknya sejak 2022.

Sementara itu, pengembangan program pelatihan kerja dan penyaluran tenaga kerja lewat Rumah Siap Kerja yang dicanangkan Pemkot Surakarta belum sepenuhnya mampu memuaskan warga. Hanya separuh responden yang mengapresiasinya. Padahal, peningkatan ekosistem ketenagakerjaan dideklarasikan sebagai salah satu fokus utama Astacita pembangunan Kota Surakarta saat konsultasi publik dalam merancang RPJMD 2025-2029. Rumah konsultasi Klik On PHK untuk membantu korban PHK pun sudah diresmikan.

Namun, dampak nyata dari program-program tersebut tampaknya belum dirasakan secara luas. Dalam konteks ini, kerja sama lintas sektor, terutama dengan pelaku usaha dan dunia pendidikan, menjadi penting untuk menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih adaptif.

Masih berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan seluruh lapisan masyarakat, sebesar 14,5 persen responden juga menyoroti kurangnya perhatian Pemkot Surakarta pada kelompok masyarakat miskin. Secara statistik, tingkat kemiskinan di Surakarta pada tahun lalu sebesar 8,31 persen. Kendati perlahan turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka kemiskinan di Surakarta merupakan yang tertinggi di antara seluruh kota yang ada di Jawa Tengah.

Relatif tingginya angka kemiskinan itu bertolak belakang dengan Pemkot Surakarta yang tampaknya belum terpantau secara khusus melaksanakan program pengentasan kemiskinan. Pada berbagai pidatonya, Wali Kota Respati Ardi menyebutkan serangkaian program ekonomi, seperti Rumah Siap Kerja, UMKM Center, hingga penguatan pariwisata, juga dimaksudkan untuk pengentasan kemiskinan. Namun, pendekatan tidak langsung ini berisiko menempatkan kelompok paling rentan dalam posisi yang tetap terpinggirkan.

Diperlukan program yang secara eksplisit menargetkan kelompok miskin, baik dalam bentuk bantuan sosial, peningkatan keterampilan, maupun akses terhadap layanan dasar yang berkualitas. Ketika ketimpangan sosial tetap terjadi, maka potensi ketidakpercayaan terhadap pemerintah dapat tumbuh dan mengikis semangat bersama membangun kota.

Pengembangan pariwisata sebagai salah satu pendorong ekonomi Surakarta pun menjadi salah satu program utama Pemkot Surakarta. Namun, lagi-lagi masih ada sebesar 13,4 persen responden juga belum mengetahui program tersebut. Padahal, separuh responden sepakat bahwa pariwisata dan UMKM lokal mampu menjadi senjata ampuh membesarkan Kota Surakarta. Pada gilirannya akan mampu mendongkrak perekonomian dan memberi aliran perekonomian pada masyarakat di ”Kota Budaya” itu.

Kurangnya akses informasi publik yang efektif agaknya menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemkot Surakarta. Ketika sebagian besar warga belum terhubung dengan kanal-kanal informasi resmi milik pemerintah, maka potensi dari berbagai program inovatif pun belum sepenuhnya dapat tersampaikan dan dirasakan. Perlu ada pendekatan komunikasi yang lebih membumi dengan bahasa dan medium yang sesuai karakteristik sosial-budaya warga Surakarta.


About Warta Grage

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comentários:

Posting Komentar